Selasa, 04 Agustus 2009

Jiwa Yang Tenang

Saat ngobrol sambil makan siang kemarin, temanku Om Yono bercerita tentang suatu hal yang dia sesali hingga kini. Suatu ketika, Om Yono bertemu seorang tua yang meminta uang untuk ongkos pulang, karena beliau kehabisan uang. Om Yono yang saat itu sedang ingin membeli bacaan mengatakan tidak punya uang untuk diberikan kepada bapak tersebut. Setelah berselang bapak tersebut tidak ada lagi, timbul penyesalan di hati Om Yono. Lalu saya bertanya, apakah penyesalan itu masih ada sampai sekarang? Iya masih, jawabnya. Apakah masih membuat gelisah? Masih. Lalu saya berpikir rasa sesal & gelisah ini sebaiknya disingkirkan karena akan menggangu jiwa & dapat dimanfaatkan oleh setan dalam menggoda manusia.

Pertama saya ingat sebuah ayat Al Quran yang menyebutkan wahai jiwa yang tenang. Berikut ayat tersebut, "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhamu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu. Masuklah ke dalam surgaKu" (QS Al-Fajr :27-30). Dari ayat tersebut, pelajaran yang dapat saya ambil adalah, saya harus berusaha menjaga jiwa/roh diri saya supaya tetap tenang, jauh dari rasa takut, gelisah, sesal, dsb. Bagaimana caranya? Jika saya menemui ada sesuatu yang membuat jiwa saya tidak tenang, bisa akan kejadian yang sudah terjadi ataupun kejadian yang dipikirkan akan terjadi, maka apa yang harus saya lakukan? Memohon kepada Tuhanku agar diberikan petunjuk untuk melakukan sesuatu yang membuat peristiwa atau pikiran tersebut pergi dengan sendirinya. Iya pergi dengan sendirinya, bukan kita paksa untuk pergi. Saya gak bisa menjelaskan kenapa saya gak perlu memaksa, tapi hanya melakukan sesuatu yang baik agar rasa takut, gelisah, sesal, dsb itu hilang dengan sendirinya.
Kedua, saya ingat pelajaran dari Bapak Budi Yuwono di kelas SQR kami yang lalu. Setan itu tidak bisa membaca apa yang ada di hati & pikiran kita. Tapi setan itu melihat gejala yang terlihat diluar tubuh manusia. Setan mengetahui manusia yang merasa takut, gelisah, sesal, dsb dari ekspresi luarnya. Jiwa yang dihantui perasan itu akan menjadi lemah & mudah digoda oleh setan. Maka perlu sekali saya menjaga jiwa ini supaya tetap tenang.

Kembali ke cerita diawal, saya berusaha menyampaikan pikiran saya ini ke Om Yono. "Om, sebaiknya, ini menurut saya, Om Yono harus melakukan sesuatu & sesuatu tersebut harus diniatkan & diyakini dapat melenyapkan rasa penyesalan terhadap peristiwa yang telah lalu tersebut." Artinya, saya yakin bahwa manusia sebaiknya tidak memelihara rasa takut, gelisah, sesal, dsb dari peristiwa yang lalu. Lalu, diluar dugaan saya, Om Yono langsung antusias dengan yang saya sampaikan. Saya mau dengar di waktu yang akan datang, apa yang Om Yono lakukan & bagaimana hasilnya.

Ya Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bimbinglah hambamu ini dalam setiap nafas kehidupannya selalu dalam ridhaMu agar memiliki jiwa yang semakin tenang & damai sehingga pada akhir hidup di dunia ini jiwaku yang tenang menghadap kembali kepadaMu. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar